HAKIKI ILMU HAKEKAT
----------------
INGATLAH,Jangan-lah gampang mengatakan sesat, niscaya kata sesat itu akan balik pada diri sendiri yang mengatakan !
------------------------------ ------------
Dalam pengajian Ilmu Hakekat berulang kali saya katakan agar TIDAK mendatangi atau menyampaikan pengetahuan ini kepada Ulama Syareat dan di anjurkan hanya bertanya, berguru kepada ahli Hakekat lagi Makrifat lagi Mursyid saja.
------------------------------ ------------
Selain dari cara syareat dan cara tarekat, terdapat satu lagi cara untuk merapatkan hubungan dengan tuhan yaitu dengan cara hakekat.
------------------------------ ------------
Cara hakekat merupakan cara yang ketiga yaitu satu cara mendalami ilmu dengan menyelami dan mengenali diri sendiri, yang merupakan satu–satu-nya jalan yang dilalui oleh wali-wali Allah, ariffinbillah dan para aulia.
------------------------------ ------------
Mereka yang menjalani pengajian ilmu hakiki ini akan ber-iktiar dengan tekun dan tabah untuk merapatkan hubungan dirinya dengan Allah s.w.t, dengan cara membongkar, menyelidiki dan menyaksikan diri sendiri yaitu diri rahasia yang di tanggung oleh dirinya dan berusaha untuk membentuk dirinya menjadi KAMIL-MULKAMIL.
------------------------------ ------------
Bagi mereka yang ingin melalui cara hakiki ini di sarankan terlebih dahulu melalui cara Tarekat, hingga dia berhasil membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik “saghir”, syirik “khafi” dan syirik “jalli.”
------------------------------ ------------
Mereka hendaklah menjalani perguruan dengan guru-guru hakiki dan makrifat serta muryid yang mempunyai pengetahuan yang luas serta mencapai pula ke tahap martabatnya.
Untuk pengetahuan lebih jelas silahkan bertanya dengan guru-guru makrifat lagi mursyid.
------------------------------ ------------
Orang-orang hakiki yang sampai pada martabatnya bukan saja mulia di sisi Allah tetapi mendapat kemulian juga di tengah masyarakat. Adalah perlu ditegaskan di sini bahwa matlumat akhir pengajian HAKEKAT adalah untuk megembalikan diri Asal Mu ke semula yaitu Allah pada Zahir dan Batin. Tiada sesuatu apapun pada dirinya kecuali Allah semata-mata.
------------------------------ ------------
Untuk itu pengajian hakekat ini harus ada kesinambungan dengan pengajian Makrifat. Sesungguhnya kata hakekat dan makrifat dua perkataan yang tidak bisa di pisahkan.
------------------------------ ------------
1.MARTABAT TUJUH
Ketika kita berbicara tentang Alam Tujuh atau Martabat Tujuh, maka hal ini tidak lepas dari mem-bicara-kan “Asal Mu Mula Balik Semula Pada Tuhan”
------------------------------ ------------
Firman Allah s.w.t.
----------------
INGATLAH,Jangan-lah gampang mengatakan sesat, niscaya kata sesat itu akan balik pada diri sendiri yang mengatakan !
------------------------------
Dalam pengajian Ilmu Hakekat berulang kali saya katakan agar TIDAK mendatangi atau menyampaikan pengetahuan ini kepada Ulama Syareat dan di anjurkan hanya bertanya, berguru kepada ahli Hakekat lagi Makrifat lagi Mursyid saja.
------------------------------
Selain dari cara syareat dan cara tarekat, terdapat satu lagi cara untuk merapatkan hubungan dengan tuhan yaitu dengan cara hakekat.
------------------------------
Cara hakekat merupakan cara yang ketiga yaitu satu cara mendalami ilmu dengan menyelami dan mengenali diri sendiri, yang merupakan satu–satu-nya jalan yang dilalui oleh wali-wali Allah, ariffinbillah dan para aulia.
------------------------------
Mereka yang menjalani pengajian ilmu hakiki ini akan ber-iktiar dengan tekun dan tabah untuk merapatkan hubungan dirinya dengan Allah s.w.t, dengan cara membongkar, menyelidiki dan menyaksikan diri sendiri yaitu diri rahasia yang di tanggung oleh dirinya dan berusaha untuk membentuk dirinya menjadi KAMIL-MULKAMIL.
------------------------------
Bagi mereka yang ingin melalui cara hakiki ini di sarankan terlebih dahulu melalui cara Tarekat, hingga dia berhasil membersihkan dirinya dari segala bentuk syirik “saghir”, syirik “khafi” dan syirik “jalli.”
------------------------------
Mereka hendaklah menjalani perguruan dengan guru-guru hakiki dan makrifat serta muryid yang mempunyai pengetahuan yang luas serta mencapai pula ke tahap martabatnya.
Untuk pengetahuan lebih jelas silahkan bertanya dengan guru-guru makrifat lagi mursyid.
------------------------------
Orang-orang hakiki yang sampai pada martabatnya bukan saja mulia di sisi Allah tetapi mendapat kemulian juga di tengah masyarakat. Adalah perlu ditegaskan di sini bahwa matlumat akhir pengajian HAKEKAT adalah untuk megembalikan diri Asal Mu ke semula yaitu Allah pada Zahir dan Batin. Tiada sesuatu apapun pada dirinya kecuali Allah semata-mata.
------------------------------
Untuk itu pengajian hakekat ini harus ada kesinambungan dengan pengajian Makrifat. Sesungguhnya kata hakekat dan makrifat dua perkataan yang tidak bisa di pisahkan.
------------------------------
1.MARTABAT TUJUH
Ketika kita berbicara tentang Alam Tujuh atau Martabat Tujuh, maka hal ini tidak lepas dari mem-bicara-kan “Asal Mu Mula Balik Semula Pada Tuhan”
------------------------------
Firman Allah s.w.t.
“Innalillah Wa inna ilai-i rajiun”
Maksud dan tujuan ayat ini adalah
“Asal Mu Allah Balik Mu semula Allah”
disini ada dua aspek utama yang di-maksud-kan :
------------------------------ ------------
Asal kejadian manusia yang dinyatakan melalui penjelasan pada Martabat Tujuh Atau Martabat Alam Insan.
Balik Mu semula Allah yaitu persiapan untuk menyerahkan atau mengembalikan Diri rahasia yang di kandung oleh jasad sebagaimana asalnya suci dan bersih.
Diri Empunya Diri, mentajallikan dirinya dari satu martabat ke satu martabat atau dari satu alam ke satu satu alam.
------------------------------ ------------
Dalam hal kita membicarakan alam atau Martabat Tujuh atau Martabat Alam Insan, maka hal ini terkandung di dalam Surah Al-Ikhlas yaitu dalam hal menyatakan tentang kewujudan Allah yang menjadi diri rahasia kepada manusia itu sendiri dan membicarakan tentang proses peng-wujud-an Allah untuk diterima oleh manusia sebagai diri rahasianya.
------------------------------ ------------
Proses pemindahan atau Tajalli Zat Allah s.w.t. bermula dari Alam Gaibul Gaib, terbentuk diri zahir dan diri batin manusia ketika mulai bernafas di dalam kandungan ibu, kemudiannya zahir ke dunia yaitu karena pada martabat Gaibul-Gaib adalah merupakan martabat manusia yang paling tinggi, suci dan inilah martabat yang benar-benar di redhoi oleh Allah s.w.t.
------------------------------ ------------
Diri manusia pada martabat “Insannul-Kamil” adalah sebatang diri yang suci mutlak pada zahir dan batin, tiada cacat celanya dengan Allah s,w.t. yaitu Tuan Empunya Rahasia. Oleh karena itu Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah menegaskan dalam sabdanya :
------------------------------ ------------
“bahwa kelahiran seseorang bayi itu dalam keadaan yang suci, tetapi yang men-corak-kannya menjadi kotor adalah ibu-bapaknya”
------------------------------ ------------
Jadi ibu-bapak-lah yang mencorakkan sehingga menjadi kotor termasuk masyarakatnya, bangsanya dan juga negaranya.
------------------------------ ------------
Oleh karna itu adalah menjadi tanggung-jawab seorang manusia yang ingin kembali menuju jalan kesucian dan makrifat kepada Tuhannya, selayaknyalah dia mengembalikan dirinya kesuatu tahap yang dikenali “Kamilul-Kamil” atau di namakan tahap Martabat Alam Insan.
------------------------------ ------------
Dalam membicarakan tingkatan atau martabat pentajallian Allah Tuan Yang Empunya Diri yang menjadi rahasia manusia adalah melalui tujuh tingkatan.
Tingkatan tersebut secara umumnya seperti berikut :
------------------------------ ------------
1. Ahdah – Alam Lahut – Martabat Zat
2. Wahdah – Alam Jabarut – Martabat Sifat
3. Wahdiah – Alam Wahdiah – Martabat Asma
4. Alam Roh – Alam Malakut – Martabat Afa’al
5. Alam Misal – Alam Bapak
6. Alam Ijsan – Alam Ibu
7. Alam Insan – Alam Nyata......?
".................."
---------------
------------------------------
Asal kejadian manusia yang dinyatakan melalui penjelasan pada Martabat Tujuh Atau Martabat Alam Insan.
Balik Mu semula Allah yaitu persiapan untuk menyerahkan atau mengembalikan Diri rahasia yang di kandung oleh jasad sebagaimana asalnya suci dan bersih.
Diri Empunya Diri, mentajallikan dirinya dari satu martabat ke satu martabat atau dari satu alam ke satu satu alam.
------------------------------
Dalam hal kita membicarakan alam atau Martabat Tujuh atau Martabat Alam Insan, maka hal ini terkandung di dalam Surah Al-Ikhlas yaitu dalam hal menyatakan tentang kewujudan Allah yang menjadi diri rahasia kepada manusia itu sendiri dan membicarakan tentang proses peng-wujud-an Allah untuk diterima oleh manusia sebagai diri rahasianya.
------------------------------
Proses pemindahan atau Tajalli Zat Allah s.w.t. bermula dari Alam Gaibul Gaib, terbentuk diri zahir dan diri batin manusia ketika mulai bernafas di dalam kandungan ibu, kemudiannya zahir ke dunia yaitu karena pada martabat Gaibul-Gaib adalah merupakan martabat manusia yang paling tinggi, suci dan inilah martabat yang benar-benar di redhoi oleh Allah s.w.t.
------------------------------
Diri manusia pada martabat “Insannul-Kamil” adalah sebatang diri yang suci mutlak pada zahir dan batin, tiada cacat celanya dengan Allah s,w.t. yaitu Tuan Empunya Rahasia. Oleh karena itu Rasulullah Muhammad s.a.w. pernah menegaskan dalam sabdanya :
------------------------------
“bahwa kelahiran seseorang bayi itu dalam keadaan yang suci, tetapi yang men-corak-kannya menjadi kotor adalah ibu-bapaknya”
------------------------------
Jadi ibu-bapak-lah yang mencorakkan sehingga menjadi kotor termasuk masyarakatnya, bangsanya dan juga negaranya.
------------------------------
Oleh karna itu adalah menjadi tanggung-jawab seorang manusia yang ingin kembali menuju jalan kesucian dan makrifat kepada Tuhannya, selayaknyalah dia mengembalikan dirinya kesuatu tahap yang dikenali “Kamilul-Kamil” atau di namakan tahap Martabat Alam Insan.
------------------------------
Dalam membicarakan tingkatan atau martabat pentajallian Allah Tuan Yang Empunya Diri yang menjadi rahasia manusia adalah melalui tujuh tingkatan.
Tingkatan tersebut secara umumnya seperti berikut :
------------------------------
1. Ahdah – Alam Lahut – Martabat Zat
2. Wahdah – Alam Jabarut – Martabat Sifat
3. Wahdiah – Alam Wahdiah – Martabat Asma
4. Alam Roh – Alam Malakut – Martabat Afa’al
5. Alam Misal – Alam Bapak
6. Alam Ijsan – Alam Ibu
7. Alam Insan – Alam Nyata......?
".................."
---------------

Tidak ada komentar:
Posting Komentar